Orang-orang zaman sekarang banyak yang menyebut 3 agama: Islam, Kristen, Yahudi sebagai agama samawi. Akan tetapi penyebutan agama samawi ini adalah suatu pemikiran yang pada dasarnya tidak cocok jika disandarkan kepada agama-agama tersebut, sebagaimana disebutkan oleh Syekh Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi dalam kitabnya, Fiqhus-Sirah an-Nabawiyah:

الأديان السماوية التي يستعملها بعض الناس,كلمة لا معنى لها

“Penamaan agama-agama seperti Islam, Kristen, dan Yahudi sebagai agama samawi adalah hal yang tidak cocok untuk ketiga agama ini.” (baca hal: 112 cetakkan Darussalam)

Mengapa Syekh Ramadhan al-Buthi sampai menyebutkan hal tersebut? Dikarenakan ketiga agama tadi, bahkan dari zaman Nabi Adam sampai terutusnya Nabi Muhammad keyakinan semua nabi hanya satu, yakni bertauhid kepada Allah atau beragama Islam. Memang benar ada beberapa rasul yang diberikan kitab suci oleh Allah, akan tetapi ajaran yang ada pada kitab-kitab tersebut adalah ajaran bertauhid kepada Allah.

Kita ambil contoh dari kitab suci Injil (Bibel), apakah kitab suci itu menuhankan Yesus Kristus? Jawabannya adalah tidak! Akan tetapi hal tersebut merupakan perubahan yang terjadi pada kitab suci Injil, karena sesungguhnya kitab suci itu berisikan cara bertauhid kepada Allah dan juga perintah untuk beriman kepada rasul setelahnya, yaitu Nabi Muhammad.

Memang benar, bahwasanya sayriat yang terjadi ketika zamannya Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Muhammad berbeda. Yang pada kenyataannya benar seperti itu, sebagaimana yang disebutkan oleh Syekh Ramadhan al-Buthi:

فإن شريعة كل رسول ناسخة للشريعة السابقة

“Bahwa syariat dari setiap rasul itu selalu menggantikan syariat rasul sebelumnya.” (baca hal: 50)

Dan hal ini berbeda dengan prinsip akidah. Adapun akidah semua nabi, sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad pasti beriman dengan keesaan Allah. Nabi Muhammad pun tidak merubah sama sekali akan prinsip akidah para nabi, bahkan meneruskan dan menguatkan akidah tauhid, sebagaimana dikatakan Syekh Ramadhan al-Buthi:

فأما العقيدة فلم يختلف مضمونها منذ بعثة آدم عليه السلام إلى بعثة خاتم النبيين صلى الله عليه و السلام إنما هي اللإيمان بوحدانية الله و تنزيهه عن كل ما يليق به من الصفات

“Adapun mengenai akidah, maka esensi (kandungan)-nya tidak pernah berbeda, sejak diutusnya Nabi Adam hingga diutusnya penutup para Nabi. Sesungguhnya akidah yang benar hanyalah beriman kepada keesaan Allah, serta menyucikan-Nya dari segala sifat yang tidak layak bagi-Nya.” (baca hal: 49)

Maka pada dasarnya semua agama yang disebut sebagai agama samawi adalah satu kesatuan, dan Islam sebagai penyempurna dari semua ajaran para nabi terdahulu. Para ahlul kitab yang tidak mau masuk Islam bukan karena Islam salah, akan tetapi tidak sesuai dengan ego mereka. Sebab kebanyakan para nabi dan rasul adalah keturunan Nabi Ishaq, yang berasal pada klan Bani Israil.

Sedangkan setelah mendengar bahwa nabi terakhir ternyata terutus di jazirah Arab dan bukan dari Bani Israil, mereka kesal dan akhirnya tidak beriman kepada Nabi Muhammad, padahal mereka mengetahui kebenaran ajaran dari Nabi Muhammad. Kemudian para petinggi agama mereka pun melakukan perubahan pada kitab sucinya sendiri, sebagaimana yang kita ketahui sekarang. Dan hal ini sesuai dengan firman Allah:

فَوَيْلٌ لِّلَّذِيْنَ يَكْتُبُوْنَ الْكِتٰبَ بِاَيْدِيْهِمْ ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ هٰذَا مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ لِيَشْتَرُوْا بِهٖ ثَمَنًا قَلِيْلًا ۚ فَوَيْلٌ لَّهمْ مِّمَّا كَتَبَتْ اَيْدِيْهِمْ وَوَيْلٌ لَّهُمْ مِّمَّا يَكْسِبُوْنَ

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: ‘Ini dari Allah’, (untuk) dengan itu memperoleh keuntungan yang sedikit. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka akibat apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 79)