
Nabi Muhammad ﷺ Diasuh Oleh Abu Thalib
Setelah Nabi Muhammad kecil ditinggal pergi oleh ibunya, kemudian beliau pun diasuh oleh kakeknya. Tidak berselang lama, pun kakeknya dipanggil oleh Allah ke dalam panggilan-Nya. Setelah sepeninggal kakeknya tersebut, Nabi Muhammad kecil diasuh oleh pamannya (Abu Thalib bin Abdul Muththalib).
Kasih Sayang Abu Thalib kepada Nabi Muhammad ﷺ
Meskipun saat itu Abu Thalib adalah seorang bapak dari 6 anak dan diceritakan hidup dalam keadaan fakir, tapi beliau tetap mengemban tugas amanah yang diberikan oleh ayahnya, berupa mengasuh Muhammad kecil.
Beberapa tahun pun berselang selama Nabi diasuh oleh pamannya tersebut, yang mana pamannya tidak membeda-bedakan di antara anak kandungnya dan juga Nabi Muhammad. Bahkan, sang paman sangat amat mencintai Nabi Muhammad melebihi anak-anaknya sendiri.
Perjalanan Dagang Menuju Kota Syam
Dan ketika Nabi Muhammad sudah berumur 12 tahun, Nabi Muhammad pun diajak oleh pamannya untuk ikut berdagang ke kota Syam bersama rombongan orang-orang Quraisy Makkah lainnya. Nabi Muhammad pun menyetujui ajakan tersebut, lalu berangkat menuju kota Syam.
Rombongan Tiba di Kota Bushra
Ketika rombongan tersebut sudah berjalan sampai ke kota Bushra (salah satu kota di Syam), mereka pun ingin beristirahat di situ. Dan kebetulan, di dekat situ sebuah biara berdiri megah yang di dalamnya ada seorang biarawan yang disebut sebagai Rahib Bahira, yang mana biarawan itu memiliki pengetahuan yang luas terhadap kitab Injil Nabi Isa.
Pertemuan dengan Biarawan Bahira
Ketika rombongan tersebut sedang beristirahat, seorang biarawan keluar dari biara dan melihat dengan tampang kebingungan kepada Nabi Muhammad yang saat itu masih berumur 12 tahun. Kemudian, biarawan itu pun bertanya kepada Abu Thalib, “Siapa anak ini bagi dirimu?”
Abu Thalib menjawab, “Dia adalah anakku,”
Dan alasan mengapa Abu Thalib mengatakan Nabi Muhammad adalah anaknya, karena saking cintanya Abu Thalib kepada Nabi Muhammad kecil.
Kemudian Bahira tersebut berkata, “Engkau bukanlah bapak dari anak ini, sebab tidak mungkin bapak dari anak ini masih hidup.”
Abu Thalib pun berkata, “Iya benar, dia adalah anak dari saudara kandungku.”
Bahira bertanya lagi, “Lalu, apa yang dilakukan oleh bapak daripada anak ini?”
Abu Thalib pun berkata, “Bapak dari anak ini telah meninggal ketika ia masih dalam kandungan ibunya.”
Pesan Bahira kepada Abu Thalib
Bahira memberi pesan, “Sungguh benar apa yang telah engkau katakan, maka dengarkan apa yang aku katakan ini! Bawalah pulang anak ini ke kampung halamannya dan jangan sampai ia bertemu dengan orang-orang yang penganut ajaran Yahudi. Sungguh apabila mereka mengetahui kebenaran yang terpancar pada anak ini, mereka pasti akan melakukan suatu hal yang buruk nan keji kepadanya.”
Kemudian, Abu Thalib pun bergegas membawa Nabi Muhammad kembali ke kota Makkah.
Referensi Utama
Baca juga tulisan kami yang bertajuk: Tiang Agama yang Tegak dari Sidratul-Muntaha



















