
Salah satu momen besar yang paling ditunggu-tunggu oleh umat Islam adalah turunnya kembali Nabi Isa alaihis salam ke bumi. Menariknya, peristiwa ini tidak cuma jadi tanda bahwa dunia sudah tua, tapi juga membuktikan betapa spesialnya umat Nabi Muhammad ﷺ. Melalui hadis-hadis yang sah, kita bisa melihat momen luar biasa ketika seorang nabi besar sekelas Nabi Isa memilih untuk tidak membawa aturan baru. Beliau justru datang untuk menjadi bagian dan pengikut setia dari ajaran Islam. Peristiwa ini menjadi bukti nyata betapa mulianya posisi umat Nabi Muhammad, bahkan di mata nabi-nabi terdahulu.
1. Kedudukan Istimewa Nabi Isa sebagai Sahabat Nabi Muhammad ﷺ
Sesungguhnya salah satu anggota dari umat ini adalah seorang Nabi yang agung dari kalangan Ulul ‘Azmi, yaitu Al-Masih Isa alaihis salam. Karena sesungguhnya, ketika ia turun (ke bumi), ia akan menjadi bagian dari umat ini berdasarkan kesepakatan para ulama, dengan tetap mempertahankan kenabiannya. Bahkan, sekelompok ulama berpendapat bahwa ia juga berstatus sebagai Sahabat karena ia bertemu dengan Nabi Muhammad ﷺ dalam keadaan hidup, beriman, dan membenarkan risalahnya.
Dan apabila ia turun, ia akan menghukumi dengan syariat Nabi kita ﷺ, sehingga ia menjadi pengikut Nabi kita ﷺ. Oleh karena itu, ia akan melaksanakan salat sebagai makmum di belakang jemaah kaum muslimin, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan dalam “Ash-Shahihain” (Sahih Al-Bukhari dan Sahih Muslim) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا نَزَلَ ابْنُ مَرْيَمَ فِيكُمْ وَإِمَامُكُمْ مِنْكُمْ
“Bagaimana keadaan kalian apabila Ibnu Maryam (Isa) turun di tengah-tengah kalian, sedangkan imam kalian adalah dari kalangan kalian sendiri?”
Hadits ini menjelaskan bahwa betapa istimewanya umat ini, karena satu satunya umat yang salah satunya adalah seorang Nabi dan termasuk Ulul ‘Azmi (Nabi Isa alaihis salam) itu adalah umat Nabi Muhammad ﷺ, dan juga Nabi Isa nantinya akan menjadi ma’mum dari salah satu pemimpin umat kita.
2. Sikap Rendah Hati Nabi Isa dan Penghormatan Terhadap Pemimpin Setempat
Dan dalam “Sahih Muslim”:
فَيَنْزِلُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَيَقُولُ أَمِيرُهُمْ : تَعَالَ صَلِّ لَنَا ، فَيَقُولُ : لَا ، إِنَّ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ أُمَرَاءُ تَكْرِمَةَ اللهِ لِهَذِهِ الأُمَّةِ
“Maka Isa putra Maryam alaihis salam turun, lalu pemimpin mereka (kaum muslimin) berkata: ‘Kemarilah, pimpinlah salat kami!’ Namun Isa menjawab: ‘Tidak, sesungguhnya sebagian kalian adalah pemimpin bagi sebagian yang lain, sebagai bentuk penghormatan dari Allah untuk umat ini’.”
Bahkan di sini ketika Nabi Isa turun dan di persilahkan untuk memimpin salat para kaum muslimin beliau menolak dan berkata bahwasannya sebagian dari kita adalah pemimpin dari sebagian yang lain, artinya beliau merasa tidak layak untuk memimpin salat kaum muslimin dan yang layak adalah pemimpin dari kalangan mereka sendiri dan juga sebagian dari kita itu di jadikan pemimpin atas sebagian yang lain itu sebagai bentuk penghormatan dari Allah bagi umat Nabi Muhammad ﷺ
Dan dalam “Musnad Ahmad”:
فَإِذَا بِعِيسَى فَيُقَالُ : تَقَدَّمْ ، فَيَقُولُ : لِيَتَقَدَّمْ إِمَامُكُمْ فَلْيُصَلِّ بِكُمْ
“Maka ketika Isa datang, dikatakan kepadanya: ‘Majulah (wahai Isa)!’ Namun ia menjawab: ‘Majulah pemimpin kalian, dan biarkan ia memimpin salat kalian’.”
Penolakan Nabi Isa untuk menjadi imam salat dan mempersilakan imam kaum muslimin untuk tetap memimpin adalah bentuk penghormatan dari Allah bagi umat Nabi Muhammad ﷺ. Nabi Isa ingin menunjukkan bahwa umat ini memiliki kemuliaan tersendiri, di mana mereka dipimpin oleh orang dari kalangan mereka sendiri bahkan di hadapan seorang nabi terdahulu.
Dan dalam “Sunan Ibnu Majah”:
إِنَّ عِيسَى يَقُولُ لِلْإِمَامِ صَلِّ ، فَإِنَّهَا أُقِيمَتْ لَكَ
“Sesungguhnya Isa berkata kepada imam (salat): ‘Majulah dan pimpinlah salat, karena sesungguhnya salat ini ditegakkan untukmu’.”
Perkataan Nabi Isa “karena sesungguhnya salat ini ditegakkan untukmu” menunjukkan sebuah prinsip fikih yang sangat ketat: Siapa yang sejak awal diniatkan dan ditunjuk untuk memimpin salat tersebut ketika iqomah dikumandangkan, dialah yang paling berhak maju. Nabi Isa menolak interupsi atau perubahan posisi imam secara mendadak di saat salat sudah siap dilaksanakan, demi menjaga keteraturan ibadah dan ketenangan (khusyu’) para jama’ah.
3. Tugas Penting Nabi Isa di Bumi dan Bukti Keadilannya
Sesungguhnya riwayat-riwayat yang mutawatir menunjukkan bahwa Nabi Isa akan salat sebagai makmum, ditunjuk sebagai khalifah (pemimpin) di tengah-tengah umat Muhammad, dan ia adalah salah satu anggota dari umat ini sekaligus pengikut Nabinya, Muhammad ﷺ. Meskipun demikian, ia tetaplah seorang Rasul dan Nabi yang mulia, tidak seperti yang diduga oleh sebagian orang yang datang dari umat ini tanpa membawa kenabian dan risalah. Mereka tidak mengetahui bahwa keduanya (kenabian dan risalah) tidak akan hilang karena kematian. Maka bagaimana dengan seseorang yang masih hidup?
Telah disebutkan dalam “Ash-Shahihain”:
لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا مُقْسِطًا ، فَيَكْسِرُ الصَّلِيبَ وَيَقْتُلُ الخِنْزِيرَ ، وَيَضَعُ الجِزْيَةَ
“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh hampir tiba saatnya bagi Ibnu Maryam turun di tengah-tengah kalian sebagai hakim yang adil. Ia akan menghancurkan salib, membunuh babi, dan menghapuskan jizyah (pajak perlindungan).”
Makna ini diperjelas lagi oleh hadis Abdullah bin Mugaffal:
يَنْزِلُ عِيسَى بْنُ مَرْيَمَ مُصَدِّقًا بِمُحَمَّدٍ عَلَى مِلَّتِهِ
“Isa putra Maryam akan turun dengan membenarkan ajaran Muhammad dan berada di atas agamanya.”
Dari hadits ini sudah jelas bahwasannya Nabi Isa turun bukan membawa syariat baru, melainkan untuk menegakkan syariat Nabi Muhammad ﷺ. Dengan menolak menjadi imam salat pada momen pertamanya dan memilih menjadi makmum, Nabi Isa secara simbolis memaklumkan kepada khalayak bahwa ia menempatkan dirinya sebagai bagian dan pengikut (tabi’) dari umat Muhammadﷺ, bukan sebagai pemimpin syariat yang baru.
Tidak ada seorang pun di antara para rasul yang menjadi pengikut rasul lain, mengamalkan syariatnya, serta meninggalkan syariat yang diwahyukan kepadanya, kecuali Nabi kita ﷺ, karena beliau adalah penutup para nabi (Nabiyyu al-Anbiya).



















