
Hikmah Rihlah Pondok Pesantren Al-Ghanna di Tirta Yudha Cijantung, 28 Mei 2026
Tanggal 28 Mei 2026, keluarga besar Pondok Pesantren Al-Ghanna mengadakan rihlah ke Kolam Renang Tirta Yudha Cijantung. Untuk sebagian orang mungkin ini terlihat seperti acara biasa: santri pergi rekreasi, bermain air, makan bersama, lalu pulang. Tapi sebenarnya, di balik kegiatan sederhana seperti itu ada banyak pelajaran yang sering tidak terlihat.
Di pesantren, keseharian santri memang penuh rutinitas. Dari bangun sebelum subuh, Qiyamullail, mengaji, sekolah, muroja’ah. sampai kegiatan malam. Semua berjalan disiplin hampir setiap hari. Kadang kalau dipikir-pikir, hati dan pikiran manusia juga bisa lelah.
Karena itu rihlah bukan hanya soal hiburan. Kadang justru lewat perjalanan seperti ini, hati santri kembali segar dan semangat belajar bisa tumbuh lagi.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
َسا فروا تصحوا وتغنموا
“Bepergianlah kalian, niscaya kalian akan sehat dan mendapatkan manfaat.”
Hadits ini sederhana, tapi maknanya luas. Islam tidak mengajarkan hidup yang tegang terus-menerus. Manusia tetap butuh jeda, butuh suasana baru, butuh tertawa bersama teman-temannya.
Hampir semua santri pernah merasakan jenuh. Apalagi kalau aktivitas pondok sedang padat-padatnya. Kadang pikiran penuh, badan capek, dan semangat belajar mulai turun. Nah, momen seperti rihlah ini bisa menjadi penyegarnya.
Yang menarik, kebahagiaan santri itu kadang sederhana. Main air bersama teman, makan bareng, bercanda dengan asatidz, perjalanan sambil saling ngobrol hal-hal kecil, seperti itu justru sering paling berkesan.
Imam Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه pernah berkata:
َرِوحوا اْلقلوب سا عة بعد سا عة، فإن القلوب إذا كرهت عميت
“Istirahatkan hati sesekali, karena hati jika terus dipaksa bisa menjadi buta.”
Perkataan ini terasa sangat relevan sampai sekarang. Kadang orang mengira pendidikan yang baik itu harus terus belajar tanpa henti. Padahal hati juga punya batas. Kalau terlalu dipaksa, justru bisa lelah dan kehilangan semangat.
Selain menyegarkan pikiran, rihlah juga membuat hubungan antar santri lebih dekat. Yang biasanya jarang ngobrol jadi akrab. Yang tadinya hanya kenal sekilas jadi banyak cerita selama perjalanan.
Bahkan hubungan santri dengan asatidz pun biasanya terasa lebih hangat saat suasana santai seperti ini. Kadang nasihat yang disampaikan di perjalanan justru lebih membekas dibanding pelajaran di kelas.
Allah Ta’ala berfirman:
َفسيروا في األرض فانظروا
“Maka berjalanlah di muka bumi lalu perhatikanlah.”
(QS. Al-An’am: 11)
Ayat ini mengajarkan bahwa perjalanan juga bisa menjadi sarana belajar. Belajar melihat nikmat Allah, belajar bersyukur, belajar memahami kehidupan.
Rihlah juga menjadi momen yang baik untuk membangun kedekatan antara santri dan para asatidz. Biasanya di pondok suasana belajar lebih formal dan penuh disiplin, tetapi ketika sedang perjalanan atau berkumpul santai seperti ini, hubungan terasa lebih hangat dan akrab. Kadang ada santri yang justru baru berani banyak berbicara dengan ustadznya saat suasana santai seperti itu.
Hal semacam ini sebenarnya penting dalam dunia pendidikan. Karena keberhasilan belajar bukan cuma ditentukan oleh materi pelajaran, tetapi juga kenyamanan batin dan hubungan yang baik antara guru dan murid. Ketika santri merasa dekat dan nyaman dengan gurunya, nasihat pun lebih mudah masuk ke hati.
Bahkan tidak jarang, nasihat ringan yang disampaikan saat duduk santai atau bercanda di perjalanan justru lebih membekas dibanding pelajaran panjang di kelas.
Mudah-mudahan rihlah Pondok Pesantren Al-Ghanna bukan hanya menjadi momen senang-senang sesaat, tapi benar-benar menjadi penyegar hati dan penambah semangat bagi para santri untuk kembali menuntut ilmu.
Karena kadang, hati yang tenang dan bahagia justru lebih mudah menerima cahaya ilmu.







