
Muhadharah ‘Ammah: Al-Habib Abu Bakr bin Ahmad Al-Haddar Di Pondok Pesantren Al-Ghanna, Jakarta
Dalam sebuah muhadharah ‘ammah yang disampaikan oleh Al-Habib Abu Bakr bin Ahmad Al-Haddar di Ponpes Al-Ghanna Jakarta, beliau menjelaskan bahwa jihad tidak hanya dimaknai sebagai perjuangan fisik, tetapi juga perjuangan besar dalam menuntut ilmu. Bahkan, menuntut ilmu termasuk jihad yang membutuhkan dua perkara utama: kesungguhan dan kesabaran.
Menuntut Ilmu Adalah Perjuangan Seumur Hidup
Beliau mengibaratkan seorang penuntut ilmu seperti manusia yang membutuhkan makan setiap hari. Seseorang tidak cukup makan hanya sekali untuk bertahan hidup selamanya. Manusia membutuhkan makan pagi, siang, dan malam secara terus-menerus tanpa libur. Begitu pula ilmu.
Ilmu agama tidak cukup dipelajari sesekali. Seorang muslim harus terus menghadiri majelis, membaca kitab, mendengar nasihat ulama, dan mengulang pelajaran agar hatinya tetap hidup. Karena itulah para ulama dahulu rela menempuh perjalanan jauh, begadang, bahkan meninggalkan kenyamanan demi memperoleh ilmu yang bermanfaat.
Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad pernah mengatakan bahwa hati manusia mudah lalai, sehingga harus terus disiram dengan ilmu dan dzikir agar tidak mati.
Ilmu Harus Disimpan dengan Kesungguhan
Beliau juga menjelaskan permisalan menarik tentang memori telepon. Sebuah telepon tidak akan memiliki isi apabila tidak ada file yang disimpan di dalamnya. Begitu pula manusia.
Ilmu tidak akan menetap dalam hati seseorang kecuali apabila ia bersungguh-sungguh menjaganya. Dengan hadirnya kesabaran, murojaah (mengulang pelajaran), dan pengamalan, ilmu akan melekat pada diri seseorang.
Banyak orang mendengar ceramah, tetapi sedikit yang benar-benar menyimpan dan mengamalkan ilmu tersebut. Karena itu para ulama mengatakan:
“Ilmu itu bukan sekadar hafalan, tetapi cahaya yang Allah letakkan di dalam hati.”
Empat Hal yang Rasulullah ﷺ Minta Perlindungan Darinya
Dalam Penjelasan tersebut beliau mengutip bahwa Rasulullah ﷺ memohon perlindungan kepada Allah dari empat perkara:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ عَيْنٍ لَا تَدْمَعْ، وَمِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, ‘jiwa yang tidak pernah puas, Mata yang tidak keluar air Matanya dan doa yang tidak didengar.”
Hadits ini mengandung pelajaran besar bahwa tidak semua ilmu membawa manfaat. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang menjadikan seseorang semakin dekat kepada Allah, semakin takut berbuat dosa, dan semakin baik akhlaknya.
Tanda Ilmu yang Melekat dalam Diri
Salah satu tanda ilmu yang benar adalah munculnya rasa takut kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah para ulama.”
(QS. Fathir: 28)
Habib Abu Bakr memberikan contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang melihat wanita yang bukan mahram, lalu ia segera memalingkan pandangannya karena takut kepada Allah, maka itu bukti bahwa ilmu telah hidup di dalam dirinya.
Begitu juga ketika ada ajakan kepada kemaksiatan dari lawan jenis yang bukan mahram, lalu ia berkata:
إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ
“Sesungguhnya aku takut kepada Allah.”
Kalimat ini menunjukkan kesadaran seorang hamba bahwa seluruh nikmat yang diberikan Allah — mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, lisan untuk berbicara, dan tubuh yang sehat — semuanya adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Ilmu Bukan Sekadar Pengetahuan, Tetapi Pengamalan
Di zaman sekarang, banyak orang mudah mendapatkan informasi, tetapi tidak semuanya mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Ada yang pandai berbicara agama namun masih mudah bermaksiat, mudah memandang yang haram, dan lalai dari kewajiban.
Karena itu, ukuran keberhasilan dalam menuntut ilmu bukan hanya banyaknya hafalan atau tingginya gelar, melainkan sejauh mana ilmu itu mampu menjaga diri dari dosa dan mendekatkan hati kepada Allah.
Ilmu sejati melahirkan:
- rasa takut kepada Allah,
- akhlak yang baik,
- hati yang lembut,
- dan amal yang istiqamah.
Menuntut ilmu adalah jihad panjang yang memerlukan kesungguhan, kesabaran, dan keikhlasan. Seorang muslim tidak boleh merasa cukup dalam belajar agama, sebab hati manusia mudah lalai dan membutuhkan asupan ilmu setiap hari.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang diberi ilmu yang bermanfaat, hati yang khusyuk, serta kemampuan untuk mengamalkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari.
اللهم ارزقنا علماً نافعاً وقلباً خاشعاً وعملاً صالحاً
“Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, hati yang khusyuk, dan amal yang saleh.”





