Di sebuah forum kecil, seseorang mengangkat tangan dan berkata pelan “Saya kurang setuju dengan pendapat itu!”

Ruangan mendadak berubah jadi dingin. Bukan karena kalimatnya kasar, tapi karena keberaniannya berbeda. Beberapa wajah mulai menunjukan ketidaksukaan. Ada yang menganggapnya menantang. Ada yang merasa ia tidak tahu sopan santun.

Dan seperti biasa, label “kurang adab” muncul lebih cepat daripada usaha memahami maksud dibaliknya. Padahal ia tidak membentak. Tidak pernah menghina. Tidak pula merendahkan siapapun. Kesalahannya hanya karena “tidak setuju!”

Lalu muncul pertanyaan yang jarang dibahas secara tenang: “apakah setiap ketidaksetujuan memang dianggap sebagai tanda kurang adab?”

Di era seperti sekarang, perbedaan seringkali dianggap lebih berbahaya daripada kesalahan itu sendiri. Seseorang boleh saja berbicara keliru, selama ia menyampaikannya dengan nada yang menyenangkan. Tetapi ketika ada yang mencoba mengoreksi, suasana malah mendadak berubah tegang.

Tidak sedikit orang yang ingin dihormati, namun tidak siap dibantah. Ingin didengar, tetapi sulit menerima sudut pandang yang “berbeda”. Akibatnya, banyak orang yang pada akhirnya memilih diam. Bukan karena mereka setuju, melainkan karena tahu betapa mahal harga dari sebuah perbedaan itu sendiri.

Padahal dalam kehidupan, ketidaksetujuan adalah suatu yang wajar. Bahkan manusia yang saling memahami sekalipun, tetap memiliki cara pandang yang berbeda.

Islam sendiri tidak pernah menghapus adanya perbedaan pendapat. Para ulama sejak dulu telah berbeda pandangan dalam banyak hal, namun tetap menjaga hormat satu sama lain. Imam Syafii pernah berkata:

رأيي صواب يحتمل الخطأ ورأي غيري خطأ يحتمل الصواب                     

“Pendapatku benar namun mungkin saja salah, dan pendapat orang lain salah namun mungkin benar.”

Sebab itu, Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana berbicara, tetapi juga bagaimana menerima perbedaan, tanpa kehilangan adab. Masalahnya, banyak orang memahami adab sebatas “tidak membantah”. Seolah-olah menghormati berarti harus mengiyakan.

Padahal ada perbedaan besar antara menyampaikan ketidaksetujuan dengan sikap yang buruk. Tidak semua ketidaksetujuan lahir dari kesombongan. Dan tidak semua persetujuan lahir dari ketulusan.

Ada orang yang berbeda pendapat karena ingin meluruskan. Ada pula yang memilih diam bukan karena setuju, tetapi karena takut dianggap melawan. Di sinilah letak perbedaan antara ketidaksetujuan dan kurang adab. Ketidaksetujuan mempersoalkan gagasan. Sedangkan kurang adab seringkali menyerang harga diri seseorang. Ketidaksetujuan memberikan ruang untuk mendengar. Sementara sikap yang buruk memberikan title ingin menang sendiri.

Setiap orang dapat berkata: “Saya kurang sependapat dengan pandangan anda”, tanpa meninggikan suara dan tanpa merendahkan siapa pun. Sebaliknya, tiap orang juga bisa terdengar sopan diluar, namun penuh sindiran dan niat menjatuhkan. Karena itu, adab bukan sekedar tentang nada bicara. Tetapi juga tentang niatan, tatacara, dan batasan dalam menyampaikan sesuatu.

Islam mengajarkan agar nasihat disampaikan dengan penuh bijak (hikmah). Namun Islam juga tidak mengajarkan manusia untuk meratap dalam kesalahan hanya demi menjaga kenyamanan.

Dalam beberapa kondisi, ketidaksetujuan kadang lahir bukan dari niat membangkang, akan tetapi dari keinginan untuk memahami lebih jauh. Sebab manusia tidak selalu mengetahui segalanya. Karena itu Allah berfirman: 

فَسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ                                     

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Ayat ini menunjukan bahwa Islam tidak pernah membangun budaya “diam tanpa berpikir.” Justru manusia diperintahkan untuk mencari penjelasan, ketika belum memahami sesuatu. Dari bertanya, lahirlah diskusi. Dari diskusi, muncul perbedaan pandangan. Dan dari sanalah adab diuji. Oleh karena itu masalah terbesar sering kali bukan terletak pada perbedaan itu sendiri, melainkan pada cara manusia memandang dirinya sendiri.

Maka tidak sedikit orang yang mampu mendengar pujian, namun sulit menerima koreksi. Mampu menghormati selama selalu dibenarkan, tetapi mulai merasa diserang ketika ada perbedaan pandangan. Padahal menerima nasihat merupakan bagian dari adab. Sebab terkadang seorang terlalu sibuk menjaga wibawa dihadapan manusia, hingga lupa bahwa dirinya pun tidak luput dari kesalahan.

Dari sini banyak perbedaan justru berubah menjadi permusuhan. Bukan karena semua orang membenci kebenaran, tetapi karena ego sering kali lebih ingin menang daripada memahami. Akibatnya, diskusi perlahan kehilangan tujuan. Orang tidak lagi mencari kebenaran, melainkan sibuk mencari siapa yang harus dikalahkan.

Padahal dalam Islam, bukan berarti selalu mengiyakan semua hal. Adab adalah menjaga lisan, menjaga niat, tetap menghormati, meski kadang berbeda prinsip. Sebab pada akhirnya, adab bukanlah cerminan yang harus selalu memantulkan kata “setuju”. Namun ia lebih seperti cahaya kecil di tengah perbedaan. Tetap tenang meski angin perdebatan datang dari berbagai arah.

Dan barangkali, sejatinya bukan perbedaan yang paling sering merusak manusia, melainkan ego yang terlalu rapuh untuk menerima, bahwa tidak semua kepala diciptakan untuk mengangguk pada arah yang sama. []