Ada banyak ilmuwan Muslim klasik yang namanya diubah kedalam bahasa Latin, hingga sering dikira sebagai ilmuwan Barat oleh pemuda zaman sekarang. Faktanya, mereka adalah tokoh penting dari era Keemasan Islam (Islamic Golden Age), yang meletakkan dasar bagi sains modern Barat.

Banyak orang awam yang mengira mereka dari barat karena beberapa hal. Pertama,nama mereka diubah ke dalam bahasa Latin agar lebih mudah diucapkan oleh masyarakat Eropa kala itu. Kedua,buku pelajaran sekolah sering kali langsung melompat dari era Yunani Kuno ke era Renaisans Eropa. Ketiga,karya-karya mereka diterjemahkan ke bahasa Latin dan menjadi buku wajib di universitas-universitas Eropa selama berabad-abad.

Contohnya seperti Avicenna, bernama asli Ibnu Sina, dia berasal dari wilayah Bukhara, yang saat ini merupakan wilayah Uzbekistan. Dialah Bapak Kedokteran Modern, memiliki karya kitab The Canon of Medicine, yang menjadi standar rujukan medis di Eropa hingga Abad ke-17. Dan sering dikira Filsuf atau dokter dari Eropa, karena namanya yang terdengar sangat Romawi atau Barat.

Ada juga nama Alhazen, bernama asli Ibnu al-Haitham, berasal dari kota Basrah yang saat ini merupakan wilayah Irak. Dia adalah Bapak Optik Modern dan pelopor metode ilmiah eksperimental. Karya masterpiece-nya, Kitab al-Manazir, menjelaskan tentang bagaimana eksperimen mata ketika melihat cahaya. Sering dikira Ilmuwan fisika dari Barat, akibat namanya “Alhazen”.

Ada lagi nama Algoritm, bernama asli Muḥammad bin Musa al-Khwarizmi, berasal dari wilayah Khawarizm yang saat ini merupakan wilayah kota Khiva, Uzbekistan. Dialah Bapak Algoritma, pencipta metode hitung logis dan sistematis yang namanya menjadi asal usul kata “Algoritma”, yang hari ini menjadi dasar dari teknologi computer dan AI. Salah satu karya besarnya, Kitab al-Mukhtasar fi Hisabil-Jabr wal-Muqabalah, merupakan buku rujukan matematika paling berpengaruh dalam sejarah dunia. Sering dikira ilmuwan matematika dari Barat, akibat namanya yang berubah dari al-Khawarizmi menjadi “Algoritm”.

Dan masih banyak lagi para ilmuwan muslim yang nama-namanya telah dilatinisasi. Banyak orang menganggap bahwa semua hal hebat—mulai dari sains, demokrasi, seni, hingga kemajuan teknologi—berasal dan dipelopori oleh Barat-Eropa, sementara kontribusi peradaban lain, seperti Arab, Asia, atau Afrika, sering kali diabaikan, dianggap remeh, atau sekadar menjadi “catatan kaki” dalam sejarah dunia.

Padahal dunia Barat berhutang budi besar pada para ilmuwan Muslim, karena tanpa kerja keras mereka dalam menerjemah, meleatarikan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan—yang saat itu Eropa masih berada di Abad Kegelapan (Dark Ages)—mungkin kemajuan teknologi modern hari ini tidak akan pernah ada.

Penemu sains Barat sebenarnya hanya sekedar melanjutkan kerja sains ilmuwan Muslim. Bukan berarti kita meremehkan kemajuan Barat hari ini. Sebaliknya, hal tersebut membuka mata kita, bahwa kemajuan manusia adalah hasil kerja keras dari para ilmuwan di seluruh dunia, sesuai dengan era keemasan pada masing-masing peradaban manusia. Jadi sains modern masa kini bukanlah murni hasil ciptaan orang Barat sendirian, melainkan hasil kerja sama semua bangsa, bahkan sejak zaman dahulu kala.