
DESKRIPSI MASALAH:
Pada sebuah daerah di pelosok desa yang makanan pokoknya terbiasa dengan beras, namun sayang ketika itu musim panen padi gagal total disebabkan hujan berkepanjangan. Sehingga penduduk yang hendak membayar zakat harus mencari alternatif selain memakai beras, yakni dengan dicampur tepung sagu yang saat itu bahan baku sagu sangat melimpah, selain itu sagu adalah makanan pokok kedua setelah beras di daerah tersebut.
PERTANYAAN:
Apakah boleh mengeluarkan zakat fitrah berupa campuran beras dan tepung sagu?
JAWABAN:
Mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk campuran beras dan sagu hukumnya tidak diperbolehkan (tidak sah) menurut mayoritas ulama, khususnya dalam Mazhab Syafi’i.
REFERENSI:
وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُخْرِجَ صَاعاً مِنْ جِنْسَيْنِ، كَأَنْ يُخْرِجَ نِصْفَ صَاعِ تَمْرٍ وَنِصْفَ صَاعِ شَعِيرٍ، لِأَنَّ كُلَّ جِنْسٍ عِبَادَةٌ مُقَدَّرَةٌ فَلَا يَجُوزُ تَلْفِيقُهَا مِنْ جِنْسَيْنِ كَالْكَفَّارَةِ.
“Dan tidak diperbolehkan mengeluarkan satu sha’ dari dua jenis makanan yang berbeda, seperti mengeluarkan setengah sha’ kurma dan setengah sha’ gandum. Karena setiap jenis makanan adalah bentuk ibadah yang telah ditentukan ukurannya, maka tidak boleh menggabungkannya dari dua jenis yang berbeda, sebagaimana aturan dalam kafarat.” (lihat: Majmu’ Syarhul-Muhadzdzab, juz: VI, halaman: 98-99)
وَلَا يُبَعَّضُ الْمُخْرَجُ عَنِ الشَّخْصِ الْوَاحِدِ مِنْ جِنْسَيْنِ وَإِنْ كَانَ أَحَدُ الْجِنْسَيْنِ أَعْلَى مِنَ الْوَاجِبِ، كَمَا لَا يُجْزِئُ فِي كَفَّارَةِ الْيَمِينِ أَنْ يَكْسُوَ خَمْسَةً وَيُطْعِمَ خَمْسَةً
“Dan tidak boleh dipecah/dibagi makanan yang dikeluarkan untuk satu orang jiwa dari dua jenis makanan yang berbeda, meskipun salah satu dari dua jenis tersebut nilainya lebih tinggi daripada tingkat kewajiban minimal. Hal ini sebagaimana tidak sah dalam kafarat sumpah, jika seseorang memberi pakaian kepada 5 orang miskin dan memberi makan kepada 5 orang miskin lainnya.” (lihat: Mughnil-Muhtaj Syarhul-Minhaj, juz: II, halaman: 450-451)





