Sebagaimana yang kita ketahui, bahwasannya Allah mengutus beberapa nabi dan rasul, di mana mereka semua mempunyai hubungan saudara (ukhuwah).
Hubungan Nabi-Nabi Terdahulu dengan Rasulullah
Rasulullah pernah mengatakan:
وَالْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلَّاتٍ، أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ
“Para nabi itu saudara sebapak, dan ibu-ibu mereka berbeda beda, akan tetapi agama mereka sama (yaitu tauhid).” (HR. Imam Bukhari )
Dari sini jelas bahwasannya hubungan kesaudaraan antara Rasulullah dengan para nabi terdahulu adalah sebuah realita. Ketika beliau mengatakan “para nabi saudara sebapak” memang benar demikian kenyataannya. Buktinya seluruh nabi dan rasul keturunan Nabi Adam, maka dari itu mereka di sebut saudara sebapak.
Kalau yang di maksud dari perkataan Rasulullah “dan ibu ibu mereka berbeda beda”, bukan berarti para nabi memiliki ibu kandung selain Sayidah Hawa, akan tetapi ibu yang di maksud adalah syari’at, cabang hukum, dan aturan ibadah yang berbeda beda, karena menyesuaikan zaman dan umat para Anbiya’.
Syari’at Rasulullah Jadi Penyempurna Syari’at Para Nabi
Mereka (para anbiya’) membawa hukum syari’at yang berbeda beda, kemudian disempurnakan dan ditutup oleh syari’at Rasulullah. Beliau memposisikan dirinya bukan sebagai perusak ajaran atau syari’at nabi-nabi terdahulu, melainkan sebagai penutup dan penyempurna sebuah bangunan megah yang didirikan oleh para nabi terdahulu. Sebagaimana yang diperumpamakan oleh hadist:
مَثَلِي وَمَثَلُ الْأَنْبِيَاءِ كَمَثَلِ قَصْرٍ أَحْسَنَ بُنْيَانَهُ، فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِهِ وَيَقُولُونَ: مَا رَأَيْنَا بُنْيَانًا أَحْسَنَ مِنْ هَذَا إِلَّا مَوْضِعَ هَذِهِ اللَّبِنَةِ، فَكُنْتُ أَنَا تِلْكَ اللَّبِنَةَ
“Perumpamaanku dan perumpamaan para nabi terdahulu, ialah seperti sebuah istana yang dibangun dengan sangat indah. Orang-orang mengelilinginya dan berkata: ‘Kami tidak pernah melihat bangunan seindah ini, kecuali satu tempat batu bata yang belum terpasang.’ Maka akulah batu bata (penyempurna) tersebut.” (HR. Imam Bukhari)
Nabi Adam adalah yang meletakkan batu bata pertama atau fondasinya. Kemudian dilanjutkan oleh Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan ribuan nabi lainnya. Setiap nabi datang membawa syariat, untuk memperluas dan memperindah bangunan istana tersebut. Jadi, nabi-nabi terdahulu bukanlah pembangun yang gagal, justru mereka telah membangun sebuah mahakarya yang hampir sempurna.
Kemudian Rasulullah datang membawa syari’atnya. Beliau datang bukan untuk membongkar istana, bukan untuk membuat ajaran baru yang berbeda, melainkan untuk mengisi celah terakhir itu. Begitu Nabi Muhammad menempati posisi itu, bangunan Islam menjadi utuh, sempurna, dan tidak butuh tambahan batu bata (nabi) lagi setelahnya.
Pengakuan Para Anbiya’: Rasulullah Adalah Saudara
Ketika peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi, Rasulullah naik ke langit pertama, lalu bertemu Nabi Adam, Nabi Adam menyambutnya seraya berkata:
مَرْحَبًا بِالاِبْنِ الصَّالِحِ وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ
“Selamat datang anakku yang saleh dan nabi yang saleh.”
Perkataan ini juga digunakan oleh Nabi Ibrahim untuk menyambut Rasulullah ketika di langit ke tujuh, karena Rasulullah merupakan keturunan beliau berdua (Nabi Adam dan Nabi Ibrahim).
Adapun nabi nabi yang lain, ketika bertemu Rasulullah di antara lapisan lapisan langit, mereka menyambutnya dengan perkataan:
مَرْحَبًا بِالأَخِ الصَّالِحِ وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ
“Selamat datang saudaraku yang saleh dan nabi yang saleh.”
Inilah pengakuan pengakuan para Anbiya’ ketika peristiwa Isra’ Mi’raj Rasulullah, bahwa beliau memiliki hubungan yang amat dekat dengan mereka.
Hubungan Kemiripan Fisik yang Nyata
Rasulullah menggambarkan bagaimana wajah dan perawakan nabi-nabi terdahulu yang diperlihatkan Allah kepadanya, sekaligus menyebutkan nabi yang paling mirip dengannya:
رَأَيْتُ عِيسَى وَمُوسَى وَإِبْرَاهِيمَ، فَأَمَّا عِيسَى فَأَحْمَرُ جَعْدٌ عَرِيضُ الصَّدْرِ، وَأَمَّا مُوسَى فَآدَمُ جَسِيمٌ سَبْطٌ كَأَنَّهُ مِنْ رِجَالِ شَنُوءَةَ، فَقَالَ لَهُ قَائِلٌ: فَإِبْرَاهِيمُ؟ قَالَ: انْظُرُوا إِلَى صَاحِبِكُمْ
“Aku melihat Isa, Musa, dan Ibrahim. Adapun Isa, kulitnya kemerahan, rambutnya ikal, dan dadanya bidang. Adapun Musa, kulitnya sawo matang, berbadan kekar, dan rambutnya lurus, mirip orang-orang dari suku Shanu’ah.”
Seseorang bertanya kepada beliau: “Bagaimana dengan Ibrahim?”
Beliau menjawab: “Maka lihatlah sahabatmu ini (maksudnya: ia mirip diri Rasulullah).” (HR. Imam Bukhari )
Hadits ini menjelaskan, bahwa Nabi Muhammad pernah melihat wujud asli para nabi terdahulu, lalu beliau menceritakan ciri-ciri fisik mereka kepada para sahabat, agar umat Islam bisa membayangkannya.
Dan hadits ini juga membuktikan adanya hubungan ikatan darah dan kemiripan fisik yang nyata di antara para nabi, terutama antara Nabi Ibrahim sebagai kakek buyut, dan Nabi Muhammad sebagai keturunannya.
