Alkisah di pertengahan abad 13 Masehi, seorang waliyullah bernama Syaikh Yasin bin Yusuf Al-Maraqasyi sedang berjalan di desa Nawa, sebuah desa terpencil di Negeri Syam. Di tengah perjalanan, ia menemukan seorang bocah yang belum genap berumur sepuluh tahun sedang menangis tersedu-sedu, karena dikucilkan oleh teman-tamannya.

Akhirnya sang Syaikh mendatangi orang tuanya, serta memberi saran agar sang putra difokuskan untuk mencari ilmu. Ternyata orang tuanya menerima saran dari sang Syaikh dan rela memondokkan anaknya ke kota Damaskus.

Setelah mondok, talenta dan kegigihannya dalam mencari ilmu mulai tampak. Tidak tanggung-tanggung, dalam sehari ia terbiasa mengikuti 12 pengajian kitab—satu bukti keistikamahan yang sulit ditiru oleh teman-teman sebayanya.

Tak ayal, keseriusannya dalam mencari ilmu membuat kagum teman-temannya, sekaligus membuat bangga guru-gurunya. Bahkan salah satu gurunya di bidang Gramatika Arab, yakni Imam Abdullah Ibnu Malik (pengarang Alfiyah Ibnu Malik, 1.000 bait syair bidang Nahwu) sampai mengabadikannya dalam sebuah bait nazam karyanya:

ﻭﻫﻞ ﻓﺘﻰ ﻓﻴﻜﻢ ﻓﻤﺎ ﺧﻞ ﻟﻨﺎ # ﻭﺭﺟﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﻜﺮﺍﻡ ﻋﻨﺪﻧﺎ

“Apakah kalian memiliki kekasih? Tidak, kami tak punya. Namun, di sisi kami terdapat orang-orang yang mulia!”

Bait ini diyakini oleh sebagian ulama sebagai bentuk apresiasi sang penulis kitab kepada muridnya yang dari kota Nawa tersebut. Ya betul, Anda tidak salah mengira.

Dialah murid terkasihnya, yang bernama lengkap Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi, atau yang lebih populer dengan sebutan “Imam An-Nawawi”, seorang alim yang namanya sering disinggung oleh kitab-kitab Arab klasik, meski semasa kecilnya ia sering dikucilkan teman-teman bermainnya.

Memang dalam hidup ini terkadang sesuatu yang kita anggap sebuah kesenangan, ternyata adalah batu sandungan yang semakin mempersulit apa yang kita cita-citakan. Sebaliknya, suatu hal yang kita pikir sebagai sebuah malapetaka, ternyata bisa membawa kita menuju kesuksesan.

Fal-yataammal!