MENELADANI SIFAT TAWADHU RASULULAH
Sifat tawadhu adalah sikap rendah hati yang ditunjukkan seorang, agar menjauhkan diri dari kesombongan. Hal ini bisa dilihat dan diambil contoh dari kepribadian Rasulullah didalam kehidupan sehari harinya.
RASULULLAH HAMBA PALING TAWADHU
Rasulullah mempunyai posisi dan derajat yang sangat tinggi di sisi Allah dan manusia, akan tetapi dengan kedudukan yang dimilikinya tidak membuat beliau menjadi orang angkuh dan sombong. Bahkan dikatakan, bahwa Rasulullah adalah orang yang mempunyai sifat paling tawadhu dan rendah hati dari manusia lain, sebagaimana dikatakan oleh Imam Qadhi Iyadh dalam kitabnya, Asy-Syifa bi Ta’rifi Huquqil-Musthafa:
أما تواضعه صل الله عليه وسلم على علو منصبه ورفعة رتبته فكان أكثر الناس تواضعا وأقلهم كبرا
”Adapun ketawadhuan Rasulullah sesuai dengan kedudukan tingginya dan ketinggian derajatnya. Akan tetapi ia adalah orang yang paling tawadhu dan rendah hati, bahkan tidak pernah merasa sombong.” (Asy-Syifa bi Ta’rifi Huquqil-Musthafa)
Perkataan tersebut menjadi bukti, bahwa Rasulullah adalah orang yang paling rendah hati dan tawadhu dibandingkan manusia lainnya.
RASULULLAH MEMILIH JADI HAMBA DARIPADA RAJA
Pernah Rasulullah diberi pilihan oleh malaikat, antara mejadi hamba atau raja. Dan Rasulullah lebih memilih menjadi hamba, sebagaimana dijelaskan didalam hadist:
جَلَسَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَظَرَ إِلَى السَّمَاءِ فَإِذَا مَلَكٌ يَنْزِلُ، فَقَالَ جِبْرِيلُ: إِنَّ هَذَا الْمَلَكَ مَا نَزَلَ مُنْذُ خُلِقَ قَبْلَ السَّاعَةِ، فَلَمَّا نَزَلَ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَرْسَلَنِي إِلَيْكَ رَبُّكَ، أَفَمَلَكًا نَبِيًّا يَجْعَلُكَ، أَوْ عَبْدًا رَسُولًا؟ قَالَ جِبْرِيلُ: تَوَاضَعْ لِرَبِّكَ يَا مُحَمَّدُ. قَالَ: بَلْ عَبْدًا رَسُولًا
Malaikat Jibril pernah duduk di samping Nabi Muhammad ﷺ. Lalu beliau melihat ke langit, tiba-tiba ada seorang malaikat yang turun.
Jibril berkata: “Malaikat ini belum pernah turun sejak diciptakan sebelum hari ini.”
Setelah malaikat itu turun, ia berkata: “Wahai Muhammad, Rabb-mu mengutusku kepadamu. Apakah Dia menjadikanmu seorang Nabi yang Raja, atau seorang Hamba yang Rasul?”
Malaikat Jibril memberi saran: “Bertawadhu’-lah (merendah hatilah) kepada Rabb-mu, wahai Muhammad.”
Maka Rasulullah ﷺ menjawab: “(Tidak, aku pilih) menjadi seorang Hamba yang Rasul.” (HR. Imam Ibnu Hibban)
Hadist tersebut membuktikan, saking tawadhu-nya Rasulullah walaupun memiliki kedudukan sangat tinggi, akan tetapi beliau tetap memilih sebagai hamba.
Didalam hadist lain Rasulullah juga pernah menegaskan, bahwa dirinya hanyalah seorang hamba:
لاَ تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُ
“Janganlah kalian berlebihan memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani berlebihan memuji (Isa) putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka panggillah aku: Hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Imam Bukhari)
Dalam hadist tersebut menegaskan, bahwa Rasulullah hanya seorang hamba Allah. Didalam hadist itu juga Rasulullah melarang para shahabat untuk memuji dirinya. Tentu semua hal tersebut beliau lakukan, karena sifat tawadhu dan rendah hatinya yang sangat tinggi.
Dan hal ini juga dijelaskan didalam al-Quran:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰٓ إِلَىَّ
“Katakanlah (wahai Muhammad): ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kalian, (hanya saja) dilimpahi wahyu kepadaku…” (QS. Al-Kahfi: 110)
Akan tetapi sikap merasa hamba Rasulullah tidak seperti orang lain pada umumnya, karena Rasululah tidak pernah lalai dari Allah, yang berbeda dengan manusia biasa.
TIDAK GENGSI KEPADA RAKYAT JELATA
Dari bentuk tawadhu dan rendah hati Rasulullah, ialah selalu mendengarkan keluh kesah dari rakyat biasa dan tidak merasa gengsi dengan hal tersebut, walaupun memiliki kedudukan yang tinggi dihadapan rakyat biasa. Hal ini dijelaskan didalam hadist:
إنَّ امْرَأَةً كَانَ فِي عَقْلِهَا شَيْءٌ، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ لِي إِلَيْك حَاجَةً، فَقَالَ: يَا أُمَّ فُلَانٍ، اجْلِسِي فِي أَيِّ طَرِيقٍ شِئْتِ، أَجْلِسْ إِلَيْكِ
Bahwasanya ada seorang wanita yang akalnya ada sedikit gangguan. Ia berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai suatu keperluan padamu.”
Rasulullah bersabda: “Wahai Ummu Fulan, duduklah di jalan mana saja yang engkau sukai, maka aku akan duduk bersamamu (untuk mendengarkan dan memenuhi hajatmu).” (HR. Imam Ahmad)
Hadist tersebut menujukkan sikap tawadhu dan rendah hati Rasulullah, dengan tidak gengsi duduk bersama wanita jelata, serta berkenan memenuhi hajatnya walaupun wanita itu agak sedikit kurang baik mentalnya.
RASULLAH TAK MALU MENAIKI KELEDAI
Salah satu dari sifat tawadhu Rasulullah lagi, adalah beliau menaiki keledai walaupun sejatinya beliau bisa saja menaiki kendaraan yang lebih bagus, akan tetapi ia lebih memilih menaiki keledai. Rasulullah melakukan hal tersebut, karena tingginya sifat tawadhu yang dimilki. Sebagimana yang dijelaskan didalam hadist:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَعُودُ الْمَرِيضَ، وَيَشْهَدُ الْجَنَائِزَ، وَيَرْكَبُ الْحِمَارَ، وَيُجِيبُ دَعْوَةَ الْعَبْدِ
Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Nabi Muhammad ﷺ biasa menjenguk orang yang sakit, menghadiri jenazah, menunggangi keledai, dan memenuhi undangan hamba sahaya.”(HR. Imam Tirmidzi)
Itulah sifat tawadhu dan rendah hati yang Rasulullah miliki, dan hal tersebut sangat patut untuk dijadikan suri tauladan dalam kehidupan sehari sehari. Semoga dengan kita mengetahui sifat sifat yang ada pada diri Rasulullah, bisa menambah rasa cinta kita kepadanya. Amin…
