إِذا رُمتَ أَن تَحيا سَليماً مِنَ الرَدى # وَدينُكَ مَوفورٌ وَعِرضُكَ صَيِّنُ
فَلا يَنطِقَن مِنكَ اللِسانُ بِسَوأَةٍ # فَكُلُّكَ سَوءاتٌ وَلِلناسِ أَلسُنُ
وَعَيناكَ إِن أَبدَت إِلَيكَ مَعائِباً # فَدَعها وَقُل يا عَينُ لِلناسِ أَعيُنُ
وَعاشِر بِمَعروفٍ وَسامِح مَنِ اِعتَدى # وَدافِع وَلَكِن بِالَّتي هِيَ أَحسَنُ
PENJABARAN & PENJELASAN
Bait-bait di atas dikutip dalam kitab al-Mikhlaah (hal: 130) dan kitab Natijatul-Afkar (hal: 12). Disinyalir bahwa bait tersebut adalah kutipan syair Ibnu Rumi.
إِذا رُمتَ أَن تَحيا سَليماً مِنَ الرَدى # وَدينُكَ مَوفورٌ وَعِرضُكَ صَيِّنُ
“Bila engkau menginginkan hidup yang selamat dari petaka, agamamu terjaga utuh dan kehormatanmu tetap suci.”
Apabila seseorang ingin hidup dengan kehidupan yang tenang, yang tidak dikotori atau dirusak oleh apapun, dan engkau menginginkan akidahmu benar-benar selamat, serta kehormatanmu terjaga dari sesuatu yang mencorengnya.
فَلا يَنطِقَن مِنكَ اللِسانُ بِسَوأَةٍ # فَكُلُّكَ سَوءاتٌ وَلِلناسِ أَلسُنُ
“Maka jangan ucapkan perkataan yang buruk. Karena engkau juga memiliki banyak keburukan dan semua orang juga memiliki lisan (berhak menilai).”
Semestinya engkau menjaga lisanmu dari mengutarakan keburukan orang lain. Karena, engkau pun memiliki banyak keburukan dan aib yang tak terhitung. Dan lisan-lisan (manusia) yang ada di sekitarmu itu sangat tajam tak berbelas kasih.
وَعَيناكَ إِن أَبدَت إِلَيكَ مَعائِباً # فَدَعها وَقُل يا عَينُ لِلناسِ أَعيُنُ
“Dan matamu bila menampilkan aib-aib orang lain kepadamu, maka tinggalkanlah dan katakan (kepada matamu): “Wahai mata, orang lain pun memiliki mata.””
Peringatkan kedua matamu, agar tidak memperlihatkan kekurangan-kekurangan orang lain kepadamu, juga tidak menyamarkan kebaikan-kebaikannya. Peringatkan dan tuntunlah ia dengan mengatakan: “Bukan hanya kamu (mata) yang bisa melihat. Karena orang lain pun punya mata yang bisa melihat keburukan-keburukanku.”
وَعاشِر بِمَعروفٍ وَسامِح مَنِ اِعتَدى # وَدافِع وَلَكِن بِالَّتي هِيَ أَحسَنُ
“Berhubunganlah dengan baik dan maafkan orang yang memusuhimu. Dan bentengilah dirimu, namun dengan cara yang terbaik.”
Jadikanlah interaksi yang baik kepada semua makhluk sebagai syiar utamamu. Dan jadikan sifat saling memaafkan itu sebagai prinsip dasar hidupmu. Bersabarlah menghadapi riak permusuhan manusia. Bersamaan dengan itu, tetaplah bentengi diri dan kehormatanmu dengan cara yang elegan, yang tidak membuat dirimu dibenci dalam pandangan manusia.
PELAJARAN
Imam Syafi’i menyisipkan berbagai pesan yang tersimpan dalam syair tersebut, khususnya kunci hidup tenang bagi orang yang berakal. Mengapa untuk orang yang ‘berakal’? Karena metode yang beliau berikan sangat mudah diaplikasikan oleh semua yang mampu bernalar.
Pertama, Introspeksi Diri Aset Termahal. Jangan sibuk menilai bagaimana orang lain hidup dan bersikap, namun fokuslah dan gunakan energimu untuk meningkatkan kualitas dirimu. Padatnya jadwalmu untuk men-judge insan lain, adalah bukti ketidaksadaranmu terhadap diri sendiri.
Kedua, Bilah Tajam Lisan. Menjaga lisan untuk tidak mengatakan keburukan orang lain, sebenarnya adalah hal mudah. Yang membuatnya sulit ialah kebodohan kita, yang menganggap orang lain tak bisa menyebarkan keburukan kita. Jagalah lisanmu agar tidak melukai orang lain. Karena bila poin ini saja tidak terpenuhi, cukup bermimpilah untuk hidup tenang.
Ketiga, Piawai Menjaga Hubungan. Secara biologis dan sosiologis, manusia merupakan makhluk komunal. Itu mengindikasikan bahwa kita sebagai manusia tidak mungkin luput dari interaksi sosial. Imam Syafi’i di sini menekankan, bahwa dalam hidup berdampingan, hubungan baik mesti dipertahankan. Maafkan orang yang memusuhimu, bersabarlah menghadapi riak permusuhan tersebut, dan bentengi diri dengan cara yang baik agar tidak merusak kehormatanmu dan merendahkan harga diri orang lain.
.
Referensi Kitab: Syarh Diwanil-Imam asy-Syafi’i lil-Mahmud Biju.
Baca juga Pandangan Imam Syafi’i tentang Persahabatan yang tidak perlu dipertahankan untuk menambah wawasan dan insight terbaru dari aslafuna ash-shalih.
