Beberapa waktu lalu salah satu simpatisan alkisah berkunjung ke kediaman salah satu tokoh kota Tarim yaitu al-Habib Muhammad bin Alwi al-Idrus atau yang dikenal dengan Habib Saad, berbicara tentang julukannya tersebut beliau menceritakan bahwa di saat beliau dilahirkan, ayah beliau Habib Alwi sedang membaca sebuah kitab bersama Habib Ibrahim bin Aqil bin Yahya RA yang di situ ada cerita tentang Syekh Saad, salah satu syekh yang berhubungan erat dengan al-Imam al-Idrus al-Akbar Abdullah bin Abu Bakar as-Sakran RA. Ayah Habib Sa’adberkata: “anak saya berada di malaf (catatan) Syekh Saad” maka sejak saat itu beliau dijuluki Saad.

Habib Sa’adtergolong Ulama’ yang kreatif dan produktif, terbukti di usianya yang sudah lanjut beliau masih sempat menulis buku-buku yang sangat berharga. Tidak kurang dari 59 buku yang beliau karang, baik yang sudah dicetak atau belum. Disamping itu beliau aktif menulis di beberapa majalah dalam dan luar negeri.

Habib Sa’addilahirkan di kota Tarim pada tahun 1351 H/1933 M. Sebagaimana lazimnya orang yang dilahirkan di kota Tarim, Habib Sa’admemulai belajar al-Quran pada Ulama’ di kota tersebut. Setelah fasih membaca al-Quran beliau belajar dengan pindah-pindah dari majlis ke majlis yang ada di kota Tarim. Setelah menginjak remaja beliau menetap di Rubat Tarim, salah satu perguruan tradisional yang terkenal menghasilkan Ulama’ yang mumpuni yang berada di Tarim. Habib Sa’adbelajar di Rubat Tarim sekitar tujuh tahun.

Selepas keluar dari Rubat Tarim Habib Sa’adpergi ke kota Aden untuk mencari pengalaman dan bekerja. Selama berada di kota itu, di samping bekerja Habib Sa’adjuga mengumpulkan barang-barang peninggalan sejarah yang memang merupakan hobinya. Pada masa-masa itulah partai Komunis memasuki Yaman Selatan dan menyiksa serta memenjara orang-orang yang dianggap berbahaya bagi gerakan politiknya. Diantara orang yang dianggap berbahaya adalah Habib Saad. Tidak sedikit dari Ulama’ yang mendapat intimidasi dari orang-orang komunis dan antek-anteknya dengan dipenjara dan penganiayaan lainnya. Tak terkecuali Habib Sa’adjuga termasuk golongan yang dipenjara.

Habib Sa’adberada dalam sel sekitar tiga tahun enam bulan. Selama dalam penjara itulah Habib Sa’admenghafal al-Quran. Di dalam penjara beliau hanya diberi satu mushaf dan dilarang membaca bacaan-bacaan lainnya, sehingga waktunya hanya beliau habiskan dengan membaca al-Quran sebagaimana yang beliau ceritakan  kepada reporter Anwar Al Ma`refah.

Sekeluarnya dari penjara, cahaya al-Quran memenuhi jiwa raganya sehingga  kecintaannya terhadap al-Quran luar biasa. Maka sejak saat itu Habib Sa’admemulai gerakan dakwahnya dengan menjadikan al-Quran sebagai target utama. Mula-mula beliau membuka kembali Mi’lamah (Tempat belajar) Abu Murayyim yang saat ini dikenal dengan Kubbah Abu Murayyim yang sempat ditutup selama enam belas tahun oleh antek-antek komunis di Yaman saat itu. Di samping itu beliau juga mempunyai aktifitas baru yaitu menjadi Imam Masjid as-Segaf. Dan sampai saat ini aktifitas tersebut beliau tekuni yang kira-kira sudah mencapai tiga puluh tahunan.

Adapun kegiatan mengarang, beliau mulai setelah kesibukannya berkurang karena faktor usia, di hari-hari senja inilah habib Sa’adbanyak menulis buku-buku berharga. Dalam waktu yang singkat beliau mampu menghasilkan beberapa karya, dan buku hasil karya beliau sudah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa termasuk bahasa Indonesia.

Al-Habib Sa’ad bersama Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi

Kubbah Abu Murayyim

Menyinggung Kubbah Abu Murayyim Habib Sa’admenjelaskan panjang lebar pada reporter Anwar Al Ma`refah, mulai dari berdirinya sampai perkembangannya saat ini. Kubbah Abu Murayyim sebelumnya dikenal dengan nama Mi’lamah yang berarti tempat belajar al-Quran, kemudian setelah al-Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur pada tahun 1299 H. membangun Kubbah di atasnya, orang-orang Tarim mengenalnya dengan nama Kubbah Abu Murayyim. Menurut Habib Sa’adMadrasah ini sudah berumur kira-kira 650 tahun. Tidak diketahui secara pasti tanggal dan tahun berdirinya, akan tetapi sejarah mencatat wafat pendirinya yaitu pada tahun 822 H.

Madrasah ini diberi nama Kubbah atau Mi’lamah Abu Murayyim karena dinisbatkan kepada pendirinya yaitu al-Habib Muhammad bin Umar Abu Murayyim bin Muhammad bin Ahmad As-Syahid bin al-Faqih al-Muqaddam RA. Beliau adalah seorang yang shaleh, penyabar, dan berakhlak mulia. Kesabaran beliau dibuktikan oleh teman dekatnya yaitu al-Habib Muhammad bin Hasan Jamalullail RA yang berkata “selama empat puluh tahun aku berteman dengan Abu Murayyim tetapi Aku tidak pernah menemukan dia marah“. Beliau hanya mempunyai seorang putri yang bernama Maryam, oleh sebab itulah beliau dipanggil Abu Murayyim yang berarti Ayah Maryam kecil.

Adapun sistem pengajaran di Madrasah ini sejak zaman Abu Murayyim adalah menghafal al-Quran secara tradisional atau pelajaran Qiraah bagi yang tidak mengahafalnya, setelah menghafalkan al-Quran tiga puluh juz biasanya para siswa diperintah untuk menghafal seperempat dari Kitab Tanbih yaitu sebuah kitab Fiqih Madzhab Syafi’i. Sehingga siswa yang keluar dari Madrasah ini bisa menjadi Ahli Fiqih sekaligus Hafidz.

Metode belajarnya masih mengunakan metode tradisional, masih menurut Habib Saad. Madrasah ini tidak memberi target waktu dalam menghafal, akan tetapi lebih melihat kepada kemampuan dan semangat murid itu sendiri. Kalau memang mempunyai hafalan kuat kurang dari setahun biasanya para siswa sudah dapat hafal tiga puluh juz. Bahkan ada dari salah satu siswa yang mampu menghafal al-Quran tiga puluh juz hanya dalam jangka dua bulan.

Entah berapa puluh ribu penduduk tarim yang menghafal al-Quran dari Kubbah Abu Murayyim ini, Saat ini saja para siswa yang tercatat aktif menghafal al-Quran sekitar 1500 siswa. Yang tersebar di seluruh haroh (dusun) kota Tarim. Untuk mempermudah proses belajar mengajarnya Habib Sa’admembuka cabang Madrasah ini di seluruh penjuru kota Tarim.

Untuk memperkuat hafalannya siswa yang sudah tamat biasanya mengikuti tadarrus al-Quran Bil Ghaib (tanpa melihat mushaf) di Masjid as-Segaf yang juga dipimpin Habib Sa’adsetiap selesai sholat Magrib dan sholat Subuh. Tadarrus al-Quran dengan sistem hafalan ini sudah berjalan sejak ratusan tahun yang silam dan sampai saat ini tradisi tersebut masih bertahan. Itu semua tidak lepas dari peran Habib Saad.

Itulah sekilas perjalanan Kubbah Abu Murayyim, di penghujung pertemuan Habib Sa’adberpesan  pada para pembaca Anwar Al Ma`refah khususnya para penuntut Ilmu agar senatiasa memperhatikan waktunya, jangan sampai waktunya lewat begitu saja tanpa ada faidah yang didapatnya. Begitu juga Habib Sa’admenganjurkan untuk gemar membaca dan di saat menemukan Fawaid dari bacaannya tersebut hendaknya mencatatnya segera. []

Al-Habib Ali Al-Jufri bersama Al-Habib Sa’ad