حَبِيبٌ لَستُ أنظره بِعينِي … وفي قلبي له حُبٌّ شديدٌ

أُريد وِصالَه ويُريد هَجري … فأترك ما أُريد لما يريد

Kekasih yang tak kulihat melalui mata, tapi cintanya sangat parah mendera hati.

Betapa ingin aku bersama dengannya, tapi dia tak ingin bersamaku. Maka kutinggalkan yang kumau, demi yang dia mau.

Cinta sejati akan membuat seorang nekat mengorbankan kepentingan dirinya demi kepentingan orang yang ia cintai, mengorbankan keinginan dirinya demi keinginan orang yang ia cintai.

Keinginan diri merupakan tantangan terbesar bagi cinta. Seberapa besar seorang bisa menahan keinginan dan kepentingan dirinya, serta mengorbankan keduanya demi keinginan dan kepentingan kekasihnya, maka sebesar itu pula cintanya kepada dia.

Seperti contoh Sayidina Abu Bakar yang begitu besar cintannya kepada Rasulullah, sampai-sampai ia rela menghabiskan hartanya demi Rasulullah, menyerahkan putrinya untuk Rasulullah, mempertaruhkan nyawanya demi Rasulullah, serta memberikan segenap pikiran dan kepercayaan penuh kepada Rasulullah.

Imam Al-Ghazali pernah mengatakan:

ومَن بقي مستقِرّا على متابعة الهوى فمحبوبه ما يهواه

“Jika seorang masih mengikuti keinginan dirinya, berarti yang dia cintai hanyalah keinginan (nafsu) dirinya.”

Seperti yang banyak terjadi di zaman sekarang, dirinya mengklaim bahwa dia mencintai Rasulullah, akan tetapi tidak sama sekali mengikuti akhlaq Rasulullah, tidak menjalankan sunah-sunah Rasulullah; bahkan membuatnya jauh dari Allah, dan melenceng dari syari’at Islam. Maka hal ini tidak bisa disebut sebagai cinta yang hakiki.

Syeikh Dzun Nun Al-Mishri pernah menyatakan:

حقيقة المحبة: أن تهب كلك لمن أحببته، حتى لا يبقى لك منك شيء

“Hakikat cinta ialah engkau memberikan seluruh dirimu kepada yang engkau cintai, hingga tidak tersisa sedikit pun dari dirimu untuk engkau sendiri.”

Ketika cinta seorang sudah seperti yang dikatakan Imam Dzun Nun Al-Mishri tadi, maka baru bisa disebut dengan yang namanya “cinta sejati”.

Endingnya, Syekh Ismail Haqqi menyatakan:

“Tanda terbesar bagi cinta ialah kepatuhan mutlak terhadap kehendak dari orang yang dicintainya.”

Tentu hal ini merupakan sesuatu yang sulit dan berat, namun bila dijalani dengan cara mencintai para Ulama, para Anbiya dan Shalihin, lalu berusaha semampu kita untuk meniru mereka, baik dalam hal akhlak maupun ilmu. Maka insyaallah dengan begitu, Allah akan menolong kita sehingga mampu meniru kekasih kita secara total. []