
Manusia adalah makhluk yang mempunyai banyak sekali kesalahan, mau itu kesalahan kepada makhluk lain ataupun kepada sang khaliq (Allah). Dan memang hal itu merupakan sesuatu yang wajar, sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama:
الإِنْسَانُ مَحَلُّ الْخَطَأِ وَالنِّسْيَانِ
“Manusia adalah tempatnya kesalahan juga kelalaian”
Akan tetapi hal ini bukan malah menjadikan kita merasa tidak peduli atas dosa-dosa, maupun kelalaian kita kepada Allah. Memang benar kita adalah tempat kesalahan juga kelalaian, akan tetapi kata Nabi Muhammad:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap manusia pasti sering melakukan kesalahan. Adapun yang paling baik di antara orang-orang yang berbuat kesalahan ialah orang yang bertaubat.” (HR. Imam Ibnu Majah, Imam Tirmidzi & Imam Ahmad bin Hanbal)
Dalam hadits ini Nabi Muhammad sengaja memilih lafadz خَطَّاءٌ dan bukan lafadz خَطَأ, dikarenakan kedua lafadz tersebut memiliki arti yang berbeda. Untuk lafdz pertama itu mempunyai arti “sering atau terus-menerus melakukan kesalahan”, sementara lafadz kedua memiliki arti “melakukan kesalahan, baik sengaja maupun tidak sengaja”.
Ini adalah bukti bahwasanya Nabi Muhammad sangat mengetahui naluri seluruh manusia, bahwasanya setiap manusia pasti sering sekali melakukan, kesalahan mau disengaja ataupun tidak disengaja.
JANGAN MENYEPELEKAN SEBUAH DOSA
Oleh karena itu, kita telah mengetahui, bahwa manusia adalah tempatnya kesalahan. Tapi jangan pernah kita menyepelekan sebuah dosa, dikarenakan Rasulullah telah mengingatkan jika setiap kesalahan yang terus dipelihara tanpa tobat, akan menjadi noda hitam yang perlahan mengeras dan menutup hati.
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ صُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ
“Sesungguhnya seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka ditorehkan sebuah noda hitam di hatinya. Jika ia meninggalkannya, memohon ampun, dan bertobat, hatinya akan kembali bersih. Namun jika ia kembali berbuat dosa, noda hitam itu akan bertambah hingga menutupi seluruh hatinya.” (HR. Imam Tirmidzi & Imam Ibnu Majah)
Dikarenakan kita sebagai manusia pasti tidak pernah luput dari yang namanya kesalahan, maka Nabi Muhammad menganjurkan kita untuk segera bertaubat setelah berbuat dosa.
ANJURAN NABI UNTUK BERTAUBAT
Nabi Muhammad amat sangat menganjurkan umatnya untuk terus-terusan bertaubat kepada Allah, sebagaimana yang disebutkan didalam hadits:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)، وَفِي رِوَايَةٍ: سَبْعِينَ مَرَّةً
“Wahai sekalian manusia, bertobatlah kepada Allah, karena sesungguhnya aku bertobat kepada-Nya dalam sehari seratus kali.” (HR. Imam Muslim). Dalam riwayat lain: “tujuh puluh kali”.
Dalam hadits ini Nabi Muhammad menyuruh kita untuk bertaubat. Bahkan nabi mengatakan bahwa dirinya selalu bertaubat kepada Allah selama 1 hari sampai 100 kali taubat (ada yang mengatakan 70 kali). Ini membuktikkan bahwasanya Nabi Muhammad—yang mana beliau adalah seorang nabi serta utusan Allah yang pasti terjaga dari segala maksiat, terlebih Nabi Muhammad adalah makluk paling spesial dari yang lain—tetap saja beliau merasa mempunyai salah kepada Allah.
Lantas bagaimana dengan kita? Kita ini bukanlah seorang yang Allah utus menjadi nabi apalagi sebagai Rasul, bahkan kita hanyalah seorang manusia biasa. Lantas mengapa diri kita ini masih sombong kepada Allah, dengan merasa diri kita tidak punya kesalahan kepada Allah?
Apakah kalian tidak malu kepada Nabi Muhammad, yang bahkan beliau adalah sosok yang terjaga dari dosa, akan tetapi masih merasa bahwa dirinya mempunyai salah kepada Allah? lantas bagaimana dengan diri kita, apakah kita juga tidak malu kepada Allah?
ALLAH ADALAH DZAT YANG MAHA PENGAMPUN
Maka wahai saudaraku, marilah kita meminta ampun kepada Allah atas segala kesalahan yang telah kita perbuat, baik sengaja ataupun tidak sengaja. Karena Allah adalah tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada para hamba-Nya, maka renungilah beberapa firman Allah ini:
قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
“Katakanlah (wahai Muhammad): ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa.’” (QS. Az-Zumar: 53)
وَمَنْ يَّعْمَلْ سُوْۤءًا اَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهٗ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللّٰهَ يَجِدِ اللّٰهَ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا
“Dan barangsiapa berbuat kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian dia memohon ampunan kepada Allah, niscaya dia akan mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 110)
Beberapa ayat al-Quran tersebut telah menunjukkan, bahwasanya Allah adalah tuhan yang Maha Pengampun. Maka sudah seharusnya bagi kita sebagai umat Muslim untuk bertaubat dari setiap kesalahan yang kita perbuat, disebabkan kita tidak pernah luput dari yang namanya kesalahan.
Wallahu A’lam bish-Shawab…


















