Berdosa seperti dosanya pembunuh, seseorang yang minum kopi di depan TV sambil menertawakan kematian penjahat yang dimassa.

Melihat seseorang tertawa bahagia sambil menyeruput kopi saat menonton berita penghakiman massa (vigilantisme), adalah gambaran nyata dari komplisitas moral pasif.

Meskipun tangannya tidak meneteskan darah dan ia hanya duduk nyaman di sofa rumahnya, secara moral, spiritual, dan psikologis, tawa dan dukungannya menempatkan dirinya sebagai bagian dari rantai kejahatan itu sendiri.

Berikut adalah bedah materi mendalam berdasarkan skenario khusus tersebut:

1. PERSPEKTIF ISLAM: DOSA HATI& KETERLIBATAN TANPA FISIK

Dalam Islam, dosa pembunuhan tidak terbatas pada orang yang memegang senjata. Sikap batin seperti ridha(senang/setuju) terhadap kejahatan, memiliki bobot hukum spiritual yang sangat berat.

SEKUTU DALAM DOSA LEWAT ‘RIDHA’

Ulama menegaskan bahwa barangsiapa yang ridha terhadap suatu kemaksiatan, ia dicatat bersama orang-orang yang melakukannya. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Jika suatu kemaksiatan dilakukan di muka bumi, maka orang yang menyaksikannya lalu membencinya, sama seperti orang yang tidak menyaksikannya. Sedang orang yang tidak menyaksikannya tetapi ia ridha/senang terhadapnya, maka ia seperti orang yang menyaksikannya (dan ikut berbuat).”(HR. Abu Daud).

TERTAWA ATAS NYAWA MANUSIA

Meminum kopi dan tertawa melihat orang disiksa atau dibunuh oleh massa menunjukkan hilangnya khasyyah(rasa takut pada Allah ﷻ) dan rahmah(kasih sayang). Dalam Islam, hukum tetap harus dijalankan otoritas (waliyul-amr),bukan main hakim sendiri. Menikmati eksekusi liar massa berarti mendukung tindakan fauha (chaos)yang dilarang keras.

DARAH TETAP MENETES DI TANGAN PENONTON YANG SETUJU

Sufyah ats-Tsauri pernah ditanya tentang seseorang yang melihat penjahat dihukum secara zalim lalu ia tersenyum. Ia menyatakan bahwa senyuman itu sudah cukup untuk membuat seseorang ikut menanggung dosa tumpahnya darah tersebut.

2. PERSPEKTIF FILSAFAT: PENIKMAT PASIF & DEGRADASI MORAL

Dalam etika dan filsafat, penonton yang menikmati kekerasan tidaklah netral secara moral.

PENYALAHGUNAAN AGEN MORAL (ETIKA DEONTOLOGI KANT)

Immanuel Kant menyatakan bahwa manusia memiliki kewajiban moral untuk menghormati hukum universal dan martabat manusia. Ketika seseorang tertawa melihat penjahat dimassa, ia menurunkan derajat manusia (bahkan penjahat sekalipun) menjadi sekadar ‘tontonan hiburan’ (spectacle).Ia telah kehilangan rasa keadilan yang murni dan menggantinya dengan kejamnya dendam pribadi.

KOMPLISITAS PASIF (PASSIVE COMPLICITY)

Filsuf politik, Hannah Arendt, saat membahas “Banality of Evil”(Kebanalan Kejahatan) menjelaskan bagaimana kejahatan terbesar terjadi bukan hanya karena ada penjahat kejam, tetapi karena ada orang-orang biasa yang menganggap kejahatan itu hal biasa, wajar, atau bahkan memuaskan. Tertawa di depan TV adalah bentuk legitimasi budaya terhadap kekerasan.

KEADILAN VS BALAS DENDAM (UTILITARIANISME)

Main hakim sendiri (mob justice)bukanlah keadilan, melainkan memuaskan emosi massa. Ketika penonton mendukungnya, ia meruntuhkan ‘kontrak sosial’ (Thomas Hobbes)—perjanjian masyarakat beradab di mana penentuan dosa atau hukuman diserahkan kepada hukum yang adil, bukan kepada amukan massa.

3. PERSPEKTIF SOSIAL: EFEK BYSTANDER& NORMALISASI BARBARISME

Sosiologi melihat fenomena ‘menikmati pembunuhan di TV’ sebagai cerminan dari masyarakat yang sedang mengalami kemunduran peradaban (de-civilizing process).

VOYUERISME KEKERASAN (VIOLENT VOYUERISM)

Masyarakat modern sering kali mengonsumsi kekerasan dunia nyata layaknya di film aksi. Jarak fisik (berada di balik layar TV, di kamar yang aman sambil minum kopi) mencipatakan ilusi bahwa tindakan itu tidak nyata, sehingga rasa empati sosial terkikis total.

EROSI RULE OF LAW(HUKUM NEGARA)

Dukungan publik terhadap pengeroyokan hingga tewas menandakan masyarakat tidak lagi percaya pada lembaga hukum. Namun, ketika masyarakat main hakim sendiri, mereka sebenarnya sedang menyetujui hukum rimba: “Siapa yang paling banyakatau palingkuat, dialah yang berhak membunuh.”

POLARISASI & LABEL ‘PENJAHAT’

Sosiologi menunjukkan bahwa begitu seseorang dilabeli ‘penjahat’, masyarakat merasa legal secara moral untuk mencabut semua hak kemanusiawiannya. Tertawa atas kematian penjahat dianggap ‘sah’ karena korban dianggap tidak layak hidup.

4. PERSPEKTIF PSIKOLOGI: MORAL DISENGAGEMENT& SADISME PASIF

Bagaimana bisa pribadi yang mungkin orang tua yang baik di rumah, bisa tertawa melihat nyawa melayang di layar TV?

PELEPASAN MORAL (MORAL DISENGAGEMENT ALBERT BANDURA)

Otak penonton melakukan trik kognitif, diantaranya:

  1. Moral Justification:“Dia kan penjahat, layak mati!”,
  2. Dehumanization:Menganggap korban sebagai ‘sampah masyarakat’, bukan lagi manusia yang merasakan sakit dan punya keluarga,
  3. Attribution of Blame:“Salah sendiri kenapa jahat, jadi wajar dimassa”.
SADISME PASIF & SCHADENFREUDE

Schadenfreudeadalah perasaan senang atas kemalangan atau penderitaan orang lain. Dalam kasus ini, penderitaan ekstrem (pembunuhan) memberikan kepuasan emosional atau pelepasan stress (catharsis)yang salah arah bagi si penonton.

DESENSITISASI DAMPAK LAYAR (MEDIA DESENSITIZATION)

Pemaparan kekerasan yang terus-menerus di media massa mengumpulkan respon emosional. Otak tidak lagi merespons pembunuhan dengan rasa mual atau kasihan, melainkan dengan ketidakpedulian (apathy)atau bahkan hiburan.

KESIMPULAN

Kopi yang ia minum mungkin hangat, tetapi hatinya telah membeku. Ia tidak memegang kayu atau batu yang memukul korban, tetapi tawanya memberikan izin moral bagi kekejaman tersebut untuk terus terjadi di dunia.

.

Baca juga artikel lain kami INTROVERT? BACA INI! dan artikel-artikel lainnya untuk memahami fenomena budaya digital lainnya.

.