
Cinta pada ulama itu tanda bahwa iman kita masih ada di dalam dada. Ramainya orang yang datang ke majelis ilmu juga menjadi bukti bahwa cahaya agama kita itu tidak pernah padam.
Tapi terkadang, rasa cinta yang menggebu-gebu jika tanpa ilmu dan adab justru membuat suasana jadi kacau ketika acara selesai. Kita sering sekali berebut sampai dorong-dorongan demi bisa cium tangan, padahal itu bisa membahayakan keselamatan sesama muslim lainnya.
Niat Baik yang Salah Cara
Setiap kali ada acara pengajian atau kedatangan seorang ulama besar, kita sering melihat pemandangan yang sama. Ratusan bahkan ribuan orang berkumpul, bersiap-siap, dan langsung maju ke depan saat acara selesai. Tujuannya satu: ingin bersalaman dan mencium tangan sang ulama.
Bagi masyarakat awam seperti kita, bersalaman dengan orang saleh adalah impian besar. Kita ingin mendapatkan keberkahan, ingin merasakan kedekatan dengan guru, dan berharap doa-doa kita dikabulkan lewat perantara mereka. Ini adalah niat yang sangat mulia. Namun sayangnya, niat yang baik ini sering kali orang-orang melakukannya dengan cara yang kurang tepat.
Demi bisa menyentuh tangan ulama, banyak orang rela saling dorong, sikut kanan-kiri, dan berdesak-desakan tanpa memedulikan keselamatan orang lain. Suasana majelis ilmu yang tadinya tenang dan penuh kedamaian, tiba-tiba berubah menjadi riuh dan kacau. Penting bagi kita untuk merenungkan kembali: Apakah cara seperti ini benar-benar disukai oleh para ulama kita?
Menghormati seorang guru atau ulama sebenarnya bukan dinilai dari seberapa dekat fisik kita dengan mereka. Nilai utama dari seorang murid adalah bagaimana kita meniru akhlak mulia dan menjalankan nasihat-nasihat yang mereka sampaikan.
Jika kita datang ke majelis ilmu untuk belajar menjadi orang yang lebih baik, maka saat pulang pun kita harus tetap menunjukkan perilaku yang baik, bukan malah berebut dan membuat keributan.
Bahaya & Dampak Buruk Berdesakan
Ketika kita memaksakan diri untuk maju dan berdesakan di tengah kerumunan, ada banyak hal negatif yang tanpa sadar kita lakukan. Agama Islam mengajarkan kita untuk selalu menjaga keselamatan sesama manusia. Berdesak-desakan memiliki beberapa dampak buruk yang nyata, di antaranya:
- Menyakiti Orang Lain: dalam kerumunan yang padat, ada anak-anak, orang tua, atau orang yang fisiknya lemah. Saat kita saling dorong, risiko ada orang yang tersenggol, terjepit, terjatuh, atau bahkan terinjak menjadi sangat besar. Menyakiti sesama muslim demi mengejar sesuatu yang hukumnya sunah (seperti bersalaman) adalah sebuah kekeliruan besar dalam agama.
Hal ini sejalan dengan peringatan keras dari Sayyidil Habib Umar bin Hafidz yang mengatakan:
لا تؤذي طفلا ولا تؤذي شائبا من أجل تقبل أنت شيخا أو تقبل شائبا أو تقبل عالما. بغيت الفضل وآذيت مسلما؟ حصلت عقابا وإثما ,ويطالبك بدفرته هذه أو وقوع رجلك على رجله أو دقته أو كتفه أو بطنه, يطالبك بها يوم القيامة, يقول هات الجزاء هنا, هات حقه ذاك اليوم. فهكذا إرشاداته عليه الصلاة والسلام
“Janganlah kau menyakiti anak kecil ataupun orang tua, hanya karena ingin mencium tangan syaikh atau ulama’. Kamu menginginkan keutamaan, tapi dengan menyakiti seorang muslim? Yang didapat justru dosa dan hukuman, dan nantinya orang yang kau sakiti akan menuntut dorongan, pijakan kaki, atau senggolanmu. Ia akan menuntut haknya padamu di hari kiamat kelak, dia akan mengatakan: ‘Berikan balasannya di sini! Berikan haknya pada hari itu!’ Inilah yang di ajarkan oleh Rasulullah.”
- Mengganggu Kenyamanan Ulama: Alim ulama juga manusia biasa seperti kita yang bisa merasa lelah, pusing, atau sesak napas jika dikerumuni oleh terlalu banyak orang. Sering kali pakaian mereka tertarik, atau tubuh mereka terdorong karena rasa semangat jamaah yang tidak terkontrol. Menjaga ketenangan dan kenyamanan guru kita adalah bentuk penghormatan yang paling tinggi.
- Merusak Keindahan Majelis Ilmu: Pengajian atau majelis zikir adalah tempat turunnya rahmat Allah dan para malaikat. Suasana di tempat tersebut seharusnya penuh dengan ketenangan (sakinah) dan sopan santun. Ketika terjadi saling dorong dan teriakan-teriakan demi bersalaman, wibawa dan kesucian majelis tersebut menjadi berkurang di mata orang lain.
Cara Terbaik Menghormati Ulama Tanpa Bersentuhan
Lalu, bagaimana cara kita mendapatkan berkah dan menunjukkan rasa hormat jika tidak bisa bersalaman langsung? Para ulama terdahulu mengajarkan bahwa ada banyak cara mulia yang bisa kita lakukan tanpa harus membuat keributan. Sayyidil Habib Umar pernah mengatakan:
لو قعدتَ من بعيد كان أفضل لك وكان المدد وصلك والخير جاء لك من دون ما تؤذي خلق الله
“Seandainya kau duduk (menyimak) dari jauh, hal itu lebih utama bagimu dan keberkahan akan tetap sampai kepadamu, serta kebaikan akan tetap datang dengan tanpa menyakiti makhluk Allah.”
- Memberikan Salam dan Senyuman dari Jauh: Jika jarak tidak memungkinkan, cukup pandang wajah ulama tersebut dengan rasa hormat, lalu ucapkan salam atau letakkan tangan kanan di dada kita sebagai tanda ta’dzim. Isyarat ini sudah sangat cukup dan bernilai pahala di sisi Allah, tanpa harus mengganggu barisan.
- Mendoakan Kebaikan untuk Mereka: Salah satu hadiah terbaik dari seorang murid kepada gurunya ialah doa yang tulus. Doakan agar ulama kita selalu diberikan kesehatan, umur yang panjang, dan kemudahan dalam berdakwah. Doa yang kita panjatkan secara sembunyi-sembunyi justru lebih mudah dikabulkan oleh Allah.
- Mengamalkan Ilmunya: Keberkahan ilmu seorang ulama tidak berpindah lewat sentuhan kulit, melainkan lewat amalan nyata. Jika kita pulang dari pengajian lalu mempraktikkan shalat yang benar, menjaga lisan, dan berbakti kepada orang tua, maka itulah tanda bahwa kita telah mendapatkan berkah yang sesungguhnya dari ulama tersebut.
Kesimpulan
Mari kita ubah kebiasaan kita saat menghadiri majelis ilmu. Menghormati ulama harus dilakukan dengan cara yang beradab. Ada sebuah ungkapan yang sangat indah: “Adab itu lebih tinggi daripada ilmu.” Orang yang berilmu tinggi namun tidak punya adab, tentu tidak akan sempurna kehidupannya.
Menjaga ketertiban, tidak berdesak-desakan dan memastikan orang di sekitar kita aman, merupakan cerminan utama dari adab seorang murid yang saleh kepada gurunya yang saleh pula.



















