Pesantren disebut juga dengan “Penjara Suci”, karena disinilah para santri dan santriwati dilatih menguasai hawa nafsu dan membentuk kedewasaan, kesederhanaan, kebersamaan, dan lain sebagainya. Pada hakikatnya kebebasan bukanlah bebas melakukan apa saja yang kita inginkan, melainkan harus menghindari hal-hal negatif seperti kemalasan, kebodohan, dan kebiasaan buruk yang pernah kita kerjakan.

Pesantren menjadi tempat suci yang membebaskan jiwa dari berbagai efek negatif pergaulan diluar sana, melalui proses belajar agama Islam, serta mengamalkan aktivitas yang diamalkan Rasulullah, supaya bisa semakin dekat kepada Allah. Seperti menghafal Al-Qur’an, atau beribadah bersama. Yang dengan itu santri menemukan makna hidup yang lebih tinggi.

Mereka belajar tentang pentingnya kedisiplinan, kebersamaan, tentang berharganya waktu, akhlaq, dan kedekatan diri kepada Allah. Bukan karena kesenangan duniawi semata, akan tetapi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Kehidupan pesantren juga mampu memahami arti kesabaran dan ketenangan. Mereka yang awalnya merasa tertekan dengan adanya peraturan-peraturan, namun apabila menjalaninya dengan ikhlas dan Lillahi Ta’ala, maka insya Allah akan terjalani dengan lancar. Pesantren bukan hanya mengajari kedisiplinan dalam menjalankan aturan-aturan, akan tetapi juga mengajari kemampuan untuk tunduk pada aturan-aturan yang lebih agung, yaitu aturan Allah.

Dalam lingkungan yang terkendali dan penuh kedisiplinan, pesantren menjadi medan latihan kehidupan yang sesungguhnya. Mereka yang telah menyelesaikan pendidikan di pesantren selama 6 tahun, umumnya lebih siap menghadapi tantangan didunia luar, karena sudah terlatih dengan observasi dari pesantren, entah itu dari segi kebersamaan dan lain sebagainya. Dalam kedisiplinan, waktu dan ilmu agama yang diperoleh menjadi bekal sangat berharga.

Dalam keterbatasan yang dirasakan, para santri dan santriwati sesungguhnya sedang mempersiapkan diri untuk meraih kebebasan berpikir, bertindak, dan hidup sesuai dengan nilai-nilai agama.

Pesantren sering disebut “Penjara Suci” oleh masyrakat yang belum merasakan keindahan penjara suci tersebut. Namun, justru dalam penjara suci ini santri-santriwati menemukan dan merasakan arti kebebasan sejati dan keindahan yang ada didalamnya.

Keterbatasan dipesantren bukanlah bentuk hukuman, melainkan sarana penyucian jiwa dan pembentukan karakter. Pesantren bukan hanya sekedar belajar, tetapi juga menjadi ruang untuk membentuk diri menjadi Ibadillahish-shalihin (hamba Allah yang saleh). Serta membentuk karakter yang berakhlak, dan bahwa akhlak lebih penting daripada ilmu. Ada pepatah Arab mengatakan:

الأدب فوق العلم

“Akhlak itu lebih tinggi di atas ilmu.”

Dalam artian akhlak lebih utama daripada ilmu, jadi percuma kita memiliki ilmu apabila tidak berakhlak. Akan lebih baik jika kita mempunyai akhlak baik dan terpuji antar sesama manusia, dengan tuhannya, maupun alam semesta.

Di penjara suci ini diajarkan berbagai macam ilmu, akhlak, kebersamaan, kesederhanaan, mengamalkan adab Rasulullah sesuai perintah Allah. Sementara dunia luar begitu kejam dalam perihal pergaulan. Semoga Allah selalu melindungi kita semua. []