NYAWA SEHARGA AYAM

Ada ayah yang menukar keringatnya
Pulang dengan nasi bungkus
Ada ayah yang menukar lelahnya
Anaknya lulus sarjana
Ada ayah yang menukar waktunya
Toples biskuit dilarang kosong

Dan ada ayah yang menukar jalannya
Pulang anak jadi yatim

Ayam yang seharga ayah?
Atau ayah yang seremeh ayam?

Terlepas sabung yang direbut
Sajam yang tergenggam
Jahat yang terpelihara
Dia masih seorang ayah

Apakah sepuluh yang memukul tak berayah?
Apakah seratus yang memukul tak berayah?
Apakah seratus satu yang memukul tak berayah?

Bukan mengecap manis kejahatan
Hanya welas pada tangan yang dipakai pukul
Kaki yang digerak injak
Mulut yang melepeh berak
Dan putrinya yang dipaksa sendiri
Sedang mereka melenggang pulang
Memeluk rengkuh anak sendiri

Ember beras di rumahnya kosong
Pangan esok tak jelas
Hidup sulit ditunggu cemas
Kini cintanya direnggut, ditukar jasad

Jadi, ayam yang seharga ayah?
Atau ayah yang seremeh ayam?

—Deren

.

Baca juga puisi kami yang berjudul HIDUP KOBOKAN SAMPAH dan artikel-artikel kami untuk memahami fenomena perkembangan budaya digital lainnya.

.