Hakikat Ikhtiar Manusia di Tengah Kekuasaan Mutlak Allah

Di antara persoalan yang sering menimbulkan kebingungan adalah hubungan antara ikhtiar manusia dan kehendak Allah. Sebagian orang beranggapan bahwa karena segala sesuatu telah ditentukan Allah, maka manusia tidak memiliki peran apa pun dalam amal perbuatannya. Sebagian yang lain justru meyakini bahwa manusia menciptakan perbuatannya sendiri secara independen. Kedua pandangan ini sama-sama bertentangan dengan manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Ahlus Sunnah wal Jamaah menempuh jalan tengah. Manusia memiliki ikhtiar dan pilihan, namun hakikat pencipta seluruh perbuatan tetap Allah Ta’ala. Dengan demikian, manusia layak menerima pahala dan siksa atas pilihan yang ia lakukan, sementara kekuasaan Allah tetap sempurna dan tidak terbatas.

Allah Pencipta Segala Sesuatu

Akidah Ahlus Sunnah menetapkan bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta segala sesuatu tanpa terkecuali. Tidak ada sesuatu pun yang keluar dari kehendak dan penciptaan-Nya.

Allah berfirman:

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

“Dan Allah-lah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian kerjakan.”
(QS. Ash-Shaffat: 96)

Ayat ini menjadi salah satu landasan utama para ulama Asy’ariyah bahwa perbuatan manusia pada hakikatnya adalah ciptaan Allah. Imam Fakhruddin ar-Razi menjelaskan bahwa ayat tersebut menunjukkan seluruh amal manusia berada dalam lingkup penciptaan Allah Ta’ala.

Allah juga berfirman:

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ

“Allah adalah Pencipta segala sesuatu.”
(QS. Az-Zumar: 62)

Kata “segala sesuatu” mencakup benda, sifat, gerakan, diam, serta seluruh kejadian yang terjadi di alam semesta.

Apakah Manusia Tidak Memiliki Peran?

Jika seluruh perbuatan diciptakan Allah, lalu di mana letak tanggung jawab manusia?

Dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, manusia memiliki apa yang disebut ikhtiar dan kasb (perolehan usaha). Manusia tidak menciptakan perbuatannya, tetapi ia memiliki kemampuan memilih yang dianugerahkan Allah kepadanya.

Allah berfirman:

فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ

“Maka barang siapa yang menghendaki hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang menghendaki hendaklah ia kafir.”
(QS. Al-Kahfi: 29)

Ayat ini menunjukkan adanya kehendak pada diri manusia. Namun kehendak tersebut bukanlah kehendak yang berdiri sendiri, melainkan berada di bawah kehendak Allah.

Karena itu Allah menegaskan:

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ

“Dan kalian tidak dapat menghendaki kecuali apabila Allah menghendaki.”
(QS. At-Takwir: 29)

Dari dua ayat tersebut tampak jelas bahwa manusia memiliki kehendak, tetapi kehendak itu tidak keluar dari kehendak Allah.

Konsep Kasb Menurut Imam Al-Asy’ari

Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari menjelaskan bahwa perbuatan manusia memiliki dua sisi.

Pertama, dari sisi penciptaan (al-khalq), perbuatan tersebut diciptakan oleh Allah.

Kedua, dari sisi usaha dan pilihan (al-kasb), perbuatan tersebut dinisbatkan kepada manusia.

Ketika seseorang berjalan menuju masjid, hakikat gerakan kaki, kekuatan otot, kesehatan tubuh, dan terjadinya langkah demi langkah semuanya diciptakan Allah. Namun karena orang tersebut memilih berjalan ke masjid, maka perbuatan itu dinisbatkan kepadanya sebagai kasb dan ia berhak mendapatkan pahala.

Sebaliknya, ketika seseorang memilih menuju kemaksiatan, Allah tetap menciptakan gerakannya, tetapi pilihan menuju maksiat berasal dari kehendak yang ia gunakan secara salah. Karena itulah ia layak menerima hukuman.

Hikmah Diberikannya Ikhtiar

Ikhtiar merupakan bentuk kemuliaan yang Allah berikan kepada manusia. Dengan adanya ikhtiar, manusia dapat membedakan antara ketaatan dan kemaksiatan, antara kebaikan dan keburukan.

Allah berfirman:

إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

“Sesungguhnya Kami telah menunjukkan jalan kepadanya, ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.”
(QS. Al-Insan: 3)

Tanpa ikhtiar, tidak akan ada makna ujian, pahala, dosa, surga, maupun neraka. Karena itu syariat Islam dibangun di atas pengakuan bahwa manusia memiliki kemampuan memilih dalam batas yang Allah tentukan.

Kesalahan Dua Kelompok Ekstrem

Dalam masalah ini terdapat dua kelompok yang menyimpang.

Kelompok pertama adalah Jabariyah. Mereka beranggapan bahwa manusia sama sekali tidak memiliki pilihan. Menurut mereka, manusia ibarat daun yang diterbangkan angin. Pandangan ini bertentangan dengan banyak ayat yang memerintahkan, melarang, serta memberikan pahala dan siksa.

Kelompok kedua adalah Qadariyah dan Mu’tazilah. Mereka beranggapan bahwa manusia menciptakan perbuatannya sendiri. Pandangan ini mengurangi kesempurnaan kekuasaan Allah sebagai Pencipta segala sesuatu.

Ahlus Sunnah wal Jamaah berada di tengah-tengah. Manusia memiliki ikhtiar, tetapi Allah tetap menjadi pencipta seluruh perbuatan.

Hakikat ikhtiar bukanlah kemampuan menciptakan perbuatan secara mandiri. Ikhtiar adalah kemampuan memilih yang Allah tanamkan dalam diri manusia. Adapun terwujudnya perbuatan tersebut tetap terjadi karena penciptaan Allah Ta’ala.

Karena itu seorang mukmin tidak boleh sombong ketika berhasil melakukan kebaikan, sebab taufik datang dari Allah. Di sisi lain, ia juga tidak boleh beralasan dengan takdir ketika terjatuh dalam dosa, sebab Allah telah memberinya kemampuan untuk memilih jalan yang benar.

Inilah keseimbangan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah: mengakui kekuasaan mutlak Allah tanpa menafikan tanggung jawab manusia. Dengan memahami hakikat ini, seorang hamba akan semakin tawakal kepada Allah sekaligus semakin giat berikhtiar dalam menempuh jalan ketaatan.